25 Jan 2012

10 Kebiasaan yang Menjadikan Anda Penulis Baik

Tulisan menarik yang saya dapatkan dari Kang Arul  mengenai sepuluh kebiasaan yang menjadikan kita menjadi penulis yang baik. Dalam kondisi yang sedang dikejar deadline oleh BP School of Writing, saya menjadi lebih bersemangat setelah membaca tulisan kang Arul tersebut yang saya dapatkan dari group di Facbook yang bernama Forum Pena Bergoyang. Semoga deadline yang memang sudah basi, he... seharusnya akhir 2011 kemarin saya harus menyerahkan naskah ke BP School of Writing. Apalagi pekan-pekan ini saya harus menyelesaikan membaca buku tentang tahsin dan ilmu tajwid karena pada hari Ahad, 29 Januari 2012 saya akan di tes untuk mendapatkan sertifikat Syahadah. 

Ya, selamat menikmati tulisan Kang Arul ini yang diposting pada tahun 2009 silam.

“ Saya selalu naik sepeda kalo buntu.”
“Ah, baca buku dan nonton film. Siapa tahu dapat ide.”
“Tidur lebih awal, bangun subuh dan nulis sampai pagi.”
“Baru bisa nulis kalau pakai mesin tik, nggak tahu kenapa.”
“Dengerin lagu sentimentil.”
“Sering datang ke perpustakaan atau kalau ada duit, ya beli buku baru.”
“Pokoknya semua harus sepi, tenang, dan nyaman.”
“Kalau anak-anak sudah tidur, nah itu waktu saya nulis.”
“Kalau ada makanan dan minuman lengkap, baru bisa nulis.”
“Hmm… saya mesti puasa dulu.”


Setiap penulis (dan mereka yang merintis profesi sebagai penulis) pasti punya kebiasaan ketika menulis. Entah itu kebiasaan yang memang sering dilakukan atau kebiasaan yang sifatnya mendadak saja ketika ingin menulis. Misalnya, saya menemukan ada penulis buku yang semua karyanya muncul bukan dari mengetik di komputer, melainkan menulis tangan di kertas atau buku. Cara ini menurutnya sangat ampuh untuk menghasilkan sebuah karya. Bagi orang lain mungkin ini terdengar rada aneh; masak di era canggih begini masih ada orang (penulis) yang kerjaannya ditulis di kertas dulu dan baru dipindahkan ke komputer, buang-buang waktu namanya. Namun, dari tulisan kertas itulah sang penulis tadi menghasilkan belasan buku dan ratusan karya cerita pendek yang dimuat di koran-koran nasional.

Atau teman penulis saya yang lain, kebetulan tinggalnya beda kelurahan dengan rumah tinggal saya, punya kebiasaan tersendiri. Setiap sore dia pasti akan main bola, entah itu sedang hujan atau tidak. Akhir pekan, si penulis ini naik sepeda sampai ke Bogor yang jaraknya bisa puluhan kilometer dari rumahnya. Setelah itu, malamnya dia baru bisa menulis skenario sinetron, novel, dan beberapa karya fiksi untuk majalah remaja. Namun, ada kebiasaan sama antara saya dengan penulis yang satu ini, kita sama-sama suka nonton film india dan sama-sama mengeluarkan air mata kalau sedang nonton film dari negeri hindustan tersebut. Apalagi adegan romantis… uhhhh… kalau ada pohon langsung bisa nari kita.

Tetapi itulah yang namanya kebiasaan. Kebiasaan bagi penulis yang memang berbeda-beda dalam praktiknya. Kebiasaan ini yang secara sadar atau tidak membentuk karakter diri penulis, memengaruhi kualitas hasil tulisannya, dan tentu saja menjadi pola baku sang penulis ketika menghasilkan sebuah karya.

Saya sangat percaya, mereka (penulis) yang memperturutkan emosi negatifnya dan suka marah-marah, pasti akan menghasilkan sebuah karya yang melukiskan suasana tersebut. Begitu juga sebaliknnya, mereka (penulis) yang senang bertutur baik, selalu intropeksi diri, sering salat tahajud, puasa, hingga tilawah akan menghasilkan sebuah karya yang tinggih nilai ruhiyahnya. Sebuah karya tidak bisa dilepaspisahkan dari gambaran penulisnya secara utuh. Sebuah karya akan dipertanggungjawabkan baik secara etika, moral, bahkan kualitas di hadapan publik oleh sang penulis. Dan Brown menjadi ‘musuh besar’ kalangan gereja karena menulis Da Vinci Code dan dianggap sebagai karya terburuk yang melukiskan sejarah ketuhanan gereja sehingga filmnya yang dibintangi Tom Hanks pun mendapat kecaman dan pelarangan edar di beberapa negara. Dan yakinlah, jika ketika menulis karya tersebut Dan Brown adalah seorang kardinal yang tinggal dan melayani urusan gerejawi di Vatikan, tentu buku Da Vinci Code akan nyaris bertolak belakang dari yang beredar sekarang.

***

Soal kebiasaan penulis ini pernah diungkap oleh Judy Reeves dalam situsnya www.judyreeveswriter.com ini. Penulis buku A Writer's Book of Days, A Spirited Companion & Lively Muse for the Writing Life (New World Library, 1999) tersebut menegaskan bahwa ada 10 kebiasaan yang membuat seseorang menjadi penulis hebat, Ten Daily Habits That Make a Good Writer.

1. Eat Healthfully
Tubuh dan panca indera adalah medium yang akan digunakan seorang penulis, maka berikanlah asupan gizi, makanan sehat, dan pola makan teratur untuk tetap menjaga kesehatannya. Makanan yang sehat akan membantu meningkatkan stamina, kekuatan dalam menulis, dan mengasah kepekaan. Ketika makan jeruk, misalnya, jangan hanya merasakan bahwa jeruk ini manis, tetapi nikmati rasa itu di lidah, rasakan sensaninya, dan lihatlah tekstur dari kulit jeruk tersebut; siapa tahu bisa mendapat ide dari hal itu.

2. Be Physical
Stamina yang baik dan kuat sangat diperlukan. Banyak penulis yang menghabiskan berjam-jam waktunya hanya duduk di depan komputer dan memandang layar komputer dengan jarak yang teramat dekat dalam waktu yang juga lama. Jagalah kesehatan, lakukan olahraga secara teratur. Jangan berharap Anda akan menjadi penulis sukses, jika Anda sendiri sakit-sakitan. Baru duduk di depan komputer saja sudah sakit pinggang, baru lihat layar komputer saja sudah pusing, atau baru mengetik saja sudah keseleo jarinya.

3. Laugh Out Loud
Lepaskan emosi yang ada dalam diri Anda, jangan menekannya sehingga mengakibatkan stress melanda. Teratwalah sepuasnya karena dengan tertawa Anda akan bisa menghilangkan stress dari pekerjaan menulis. Atau jika tidak mainlah dengan anak Anda, jalan-jalan dengan rekan kerja atau sahabat, nonton film, salat sunat, ngobrol dengan orang lain, atau minimal dengarkan musik-musik yang bisa membangkitkan semangat Anda.

4. Read
Membaca adalah syarat mutlak menjadi penulis yang handal. Semakin banyak bahan bacaan yang dilahap, maka semakin banyak kosa kata, ritme kata, atau kalimat yang memperkaya perbendaharaan di pustaka otak Anda. Bacalah dalam dua level yang berbeda, baik sebagai seorang pembaca atau membaca sebagai seorang penulis. Pelajari bagaimana penulsi lain menggunakan bahasa, bagaimana mereka mengkonstruk situasi.

5. Cross-Fertilize
Tidak ada salahnya untuk sesekali menyeberang dari kebiasaan Anda menulis. Mungkin Anda bisa melakukan kegiatan melukis, menonton teater, bernyanyi, mendaki, naik sepeda, bahkan bisa saja memasak. Dengan demikian Anda akan merasakan sensasi yang lain. Percayalah jika Anda selalu menulis dan tidak pernah mengerjakan pekerjaan lain, titik klimaks kejenuhan akan melanda Anda dan bisa saja malah bosan menulis hingga akhirnya berhenti.

6. Practice Spirituality
Jangan lupakan kehidupan spiritual Anda. Berdoa sebelum menulis, berhenti sejenak ketika panggilan salat menggema, atau pergi ke tempat ibadah. Ini akan membuat emosi spiritual Anda terasah dengan baik dan mengembalikan niat awal Anda menulis sebagai sarana untuk berbagi kepada orang lain.

7. Pay Attention
Asah kemampuan Anda untuk memerhatikan segala sesuatunya secara detail. Lihatlah bagaimana tekstur dan warna daun jambu yang tumbuh di halaman tetangga. Rasakan dingginnya air yang mengalir di sungai, arak-arakan awan di langit, indahnya bunga, kreatifitas iklan-iklan di televisi. Lihatlah dengan seksama bagaimana kebiasaan orang di dalam bus, ketika menunggu kereta, menyeberang, bahkan mengendarai sepeda motor.

8. Give Back
Lakukanlah hal-hal baik dalam kehidupan Anda. Bantulah tetangga yang sedang kesulitan, bagi sayur atau lauk pauk yang Anda masak. Kembangkan senyum kepada orang lain, meski orang tersebut bukan yang Anda kenal. Buang sampah pada tempatnya, tanamlah pohon untuk kehijauan dunia, hemat menggunakan air dan listrik. Berbuat baik akan mengasah kepribadian seorang penulis agar menjadi penulis yang baik pula.

9. Connect with Another Writer
Jangan menganggap bahwa Anda yang sudah menerbitkan buku adalah seorang penulis hebat. Bergaullah dengan orang (penulis) lain, berdiskusi dengan rekan seprofesi, ikuti milis, datangi peluncuran buku penulis lain, hadiri seminar kepenulisan, telpon rekan-rekan penulis. Menyambung hubungan pertemanan dengan sesama penulis akan membawa manfaat yang luar biasa bagi karier kepenulisan Anda.

10. Write
Menulislah! Kapan saja, di manapun, setiap hari, di berbagai tempat, dalam keadaan apapun. Jangan sampai Anda melewatkan hari tanpa menulis apa-apa. Hargai profesi Anda dan lakukan yang terbaik baik profesi tersebut.

 
Semoga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Komentarnya

Emas Mini

Entri Populer