 |
| Erick Yusuf |
Sewaktu sekolah di SMP dulu,
seorang sahabat saya bernama Erick Happy ditanya oleh seorang guru, “Apa
cita-cita kamu nanti?”
Dengan santai dia menjawab, “Muda
foya-foya, tua kaya raya, mati masuk syurga.” ...Gggrrrrr…suasana kelas
pun bergemuruh. Sang guru pun marah karena merasa diolok-olok.
Cita-cita,
tujuan, dan keinginan. Sewaktu kecil memang seringkali guru, orang tua
dan teman-temannya bertanya tentang cita-cita, dan kita pun dilatih
dengan menjawab cita-cita sebagai tujuan akhir dengan jawaban profesi
pekerjaan, seperti menjadi pilot, dokter, tentara dan sebagainya.
Seakan-akan jika kita menjawab selain dari itu adalah jawaban yang
salah.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia tujuan adalah alamat,
arah, haluan, jurusan, maksud, sasaran, kehendak, keinginan. Dan
keinginan sendiri adalah kehendak, maksud, atau tujuan.
Sebenarnya
yang terjadi pada kita, manusia dalam konteks keinginan atau tujuan,
kita senantiasa dihantarkan oleh waktu untuk selalu menuju tujuan kita
dari bangun tidur, melakukan keseharian kita sampai tidur dan kembali
bangun; dari detik ke detik, dari jam ke jam, hari, minggu, bulan bahkan
tahun….kita senantiasa diantarkan oleh waktu dari satu tujuan ke tujuan
yang lain, dari satu keinginan ke keinginan yang lain, dan seterusnya
sampai tujuan dimasa mendatang.
Mari kita tafakuri sejenak apa tujuan kita besok?
Apa
tujuan kita esok lusa, atau minggu depan, atau bulan depan, atau bahkan
tahun depan. Mari kita perhatikan di sekeliling kita. Orang-orang atau
manusia-manusia yang tujuannya besok mungkin sekedar bangun lebih pagi,
ada yang berencana sport, shopping & hang out besok, ada yang minggu
depan berencana reunian dengan teman lama, ya kangen-kangenan, ada juga
yang bulan depan sedang berencana menikah, atau ada juga dari mereka
yang bulan depan akan promosi naik jabatan, dan masih banyak lagi yang
bisa kita lihat dalam kehidupan kita, manusia.
Manusia dan
tujuannya dalam kehidupan ini. Hanya saja semua tujuan-tujuan itu dari
mulai rentan waktu yang pendek hingga yang panjang, dari mulai esok hari
sampai minggu depan, bahkan bulan, bahkan tahun dan bertahun-tahun
lagi……semuanya tidaklah pasti. Tidaklah pasti, kecuali Allah memberikan
izin kepada dirinya, kita, manusia untuk mencapai tujuan tersebut, atau
keinginan tersebut.
Makna dari kata Insya Allah
Insya
Allah adalah kata yang sering kita ucapkan jika kita akan melakukan
sesuatu apapun nanti, atau jika kita akan mengerjakan sebuah pekerjaan
dimasa mendatang, baik itu dihitung dari mulai hitungan detik, jam,
hari, minggu, bulan bahkan tahun.
Karena apapun yang akan
dilakukan oleh manusia dimasa mendatang haruslah atas seizin Allah,
tetapi makna dari kata Insya Allah inilah yang sering kita lupakan.
Terkadang malah jika kita jawab Insya Allah teman kita malah berucap,
”Aduh jangan Insya Allah dong, pastiin….jadi apa nggak,”
Seakan-akan
kata Insya Allah bermakna, “Ngak janji deh...” Atau kalo sempet ya...
atau perkataan semacamnya. Inilah yang seringkali terjadi dan kata Insya
Allah dimaknai lain.
Padahal, setidaknya ada dua makna dari
ucapan kata Insya Allah yang atinya jika Allah mengizinkan. Pertama
apakah Allah mengizinkan kita untuk mencapai tujuan tersebut. Kedua
apakah Allah masih memberikan waktu atau masa, sehingga umur kita masih
bisa mencapai tujuan tersebut.
Terkadang manusia atau kita hanya
terfokus pada tujuan-tujuan atau keinginan-keinginan yang belum pasti.
Keinginan dan tujuan yang belum tentulah Allah akan mengizinkan kita
untuk mencapai tujuan tersebut, dan melupakan tujuan yang pasti, tujuan
yang hakiki, yaitu bertemu dengan Allah Rabb semesta alam, melalui pintu
kematian.
Sahabat, begitulah skenario Allah. Dan ketika bahasan
telah sampai di sini seringkali keinginan kita atau tujuan kita
bertolak belakang dengan skenario Allah, yang menetapkan tujuan hakiki
manusia adalah kembali kepada Allah, Tuhan Rabb semesta alam melewati
pintu kematian. Allah telah berfirman dalam Alquran:
“Wahai
Manusia, sesungguhnya engkau giat menuju TuhanMU dengan penuh
kesungguhan, maka pasti engkau akan menemuiNYA.” (QS. Al Insyiqoq : 6)
Ayat
yang baru saja kita simak menyeru kepada kita, Manusia bahwa secara
sadar maupun tidak, mau ataupun tidak, manusia diantarkan oleh waktu
atau masa sampai pada satu tujuan yaitu bertemu dengan Allah Rabb
semesta alam. Hanya saja kebanyakan dari kita, manusia sering tidak
menyadari akan hal itu.
Ya, seringkali kita lupa di dalam
keseharian kita. Kita pikir yang pasti besok adalah tujuan-tujuan kita
seperti sport, shopping, atau reuni, promosi naik jabatan, menikah,
bercengkrama dengan anak dan keluarga dan sebagainya padahal itu semua
tidaklah pasti, karena yang pasti kita sedang berjalan menuju Allah,
lewat pintu kematian.
Malaikat maut mendatangi kita lima kali dalam sehari
Padahal
tahukah sahabat, bahwa sesungguhnya malaikat maut itu mendatangi kita
sehari lima kali. Ya, disebutkan dalam sebuah hadis lima kali dalam
sehari dan dalam hadis lain 70 kali sehari. seakan-akan malaikat itu
terus dengan teliti mengawasi kita, apakah sudah saatnya kita pada waktu
yang telah ditetapkan, atau dengan kata lain sudah sampaikah kita pada
jadwal ajal yang telah ditetapkan. Wallahu ‘alam bish shawwab.
Tidaklah
ada satupun manusia yang akan tahu kapan ajal itu akan datang
menjemputnya. Tetapi yang mengherankan adalah mengapa kebanyakan dari
kita, manusia tidak mempersiapkan bekal untuk sesuatu yang pasti, yang
pasti kita datangi yaitu kehidupan setelah kematian. Dan itulah tujuan,
tujuan hakiki dari kehidupan kita.
Kuncinya adalah menselaraskan keinginan dan tujuan, sesuai dengan yang diridhai Allah SWT.
Kunci
dari pemahaman tentang keinginan yang telah kita bahas, adalah
menyelaraskan keinginan dan tujuan sehari-hari kita dengan tujuan
kehidupan akhirat kelak. Bila kita tafakuri, waktu yang telah kita
lalui tidaklah mungkin kembali, hari demi hari, minggu, bulan dan tahun,
hidup kita ini adalah sebuah perjalanan, yang kita sedang mengarunginya
hari demi hari sampai nanti ajal menjemput kita.
Oleh karena
itu, di dalam perjalanan ini hendaklah kita semua, mengambil jalan yang
“selamat”. Selamat bukan hanya untuk perjalanan di dunia ini sahabat,
tetapi selamat di dunia sekaligus untuk bekal keselamatan di akhirat
nanti. Jalan yang selamat, itulah kenapa islam mempunyai arti , salah
satunya adalah selamat. Selain arti yang lain adalah berserah diri,
berserah diri kepada ketentuan Allah SWT.
Jalan selamat perlulah cara, aturan dan jalan yang benar
Dan
untuk mengambil jalan yang selamat perlulah pedoman cara dan aturan
yang benar, cara yang telah dicontohkan oleh Rasullullah SAW, dan dengan
aturan yang haq atau yang sebenar-benarnya yaitu aturan Alquran dan
Sunnah. Itulah jalan yang selamat.
Mari kita tafakuri. Sementara
tujuan esok kita sekedar jogging saja telah kita persiapkan, tujuan esok
kita akan reuni, atau sekedar kongkow-pun telah kita persiapkan,
apalagi di minggu depan misalkan promosi naik jabatan pastilah telah
kita persiapkan, tetapi banyak dari kita yang lupa akan persiapan
skenario Allah tentang tujuan kita kembali kepada Allah lewat pintu
kematian, apa bekal kita untuk kehidupan akhirat kelak, amalan apa yang
akan kita bawa?
Mari kita niatkan perubahan, mari berhijrah dari
yang kurang baik menuju yang baik, dan dari yang baik menuju yang lebih
baik lagi, mari kita niatkan agar hari ini lebih baik dari kemarin dan
esok lebih baik dari hari ini, mari bersama-sama, selama kita masih
berkesempatan, selama kita masih diberi kesempatan, selama nafas masih
berhembus. Mari! Insya Allah, Aamiin.
Tidaklah lebih baik dari
yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik disisi
ALLAH adalah yang mengamalkannya. [Ustaz Erick Yusuf, republika.co.id]