2 Jan 2012

Resensi Film Hafalan Shalat Delisa


Film Hafalan Shalat Delisa (HSD) merupakan adaptasi dari novel terlaris karya Tere Liye. Judul filmnya sendiri sama dengan judul novelnya, tak ada perubahan sama sekali.

Film dimulai dengan adegan kakak beradik, Fatimah, Aisyah, Zahra dan Delisa di dalam kamar pada waktu subuh. Fatimah, Aisyah dan Zahra membangunkan Delisa untuk melaksanakan shalat shubuh berjamaah bersama Ibu mereka,Ummi Salamah. Delisa, anak bungsu yang belum hapal bacaan shalat, meminta umminya membaca bacaan shalat dengan keras, agar Delisa bisa mengikuti bacaan shalatnya.

Ummi Salamah telah berjanji untuk memberikan hadiah Delisa sebuah kalung apabila mampu menghapal bacaan shalat. Delisa diajak Umminya ke pasar menuju toko Koh Acan agar Delisa memilih sendiri kalung yang akan menjadi miliknya tersebut. Delisapun memilih kalung yang ada huruf “D”nya. D untuk Delisa.
Saat tibanya tes hapalan shalat di sekolah Delisa. Tiur, teman sekelas Delisa, terlebih dahulu di tes, Tiur berhasil menghafal bacaan shalat. Tiba giliran Delisa yang dites. Ketika Delisa mengucapkan takbir, ia berupaya untuk bisa melaksanakan shalat dengan khusyu sesuai denga perintah Ustadz Rahman. Saking berusaha untuk khusyu, Delisa tidak menghiraukan terjadinya gempa dan tsunami yang menerjang Lhok Nga termasuk menerjang dirinya sehingga terombang-ambing terbawa arus air.

Tentunya adegan peistiwa tsunami dari film ini tidak bisa menggambarkan dahsyatnya tsunami seperti yang digambarkan dari novelnya. Kurang berkesannya, Delisa digambarkn terendam dalam air kolam yang jernih tak berlumpur. Adegan ini kurang begitu mengena. Namun sang sutradara membuat lebih mengena dan mengusik hati penonton ketika dalam tak sadarnya Delisa ditinggalkan semua orang-orang terdekat menuju surga. Kecuali Umminya. Delisa belum melihat ummi Salamah dalam mimpinya.

Akhirnya Delisa terdampar di atas lumpur. Berbeda dengan Novelnya yang menggambarkan Delisa dalam kondisi tersangkut di atas pohon. Kondisi Delisa versi film tak terlalu mengusik hati penonton.
Pengalaman rohani Prajurit Smith, relawan dari Amerika Serikat, tak digambarkan dalam filmnya. sehingga sampai akhir cerita para penonton yang belum membaca nvelnya pasti tak mengetahui jika Prajurit Smith menjadi mu’alaf karena pengalaman rohani yang ia alami ketika menemukan Delisa yang terdampar.
Sudah berhari-hari Abi Usman, Ayahnya Delisa, mencari-cari istri dan anak-anaknya, akhirnya ia dipertemukan dengan Koh Acan. Koh Acanpun mengabarkan. bahawa ketiga anaknya Abi Usman, Fatimah, Aisyah dan Zahra sudah dimakamkan di pemakaman massal. Tinggal Delisa dan Umminya yang belum diketahui kondisinya. Hal inilah yang mebuat decak kagum penonton karena melihat actingnya Reza Rahadian sebagai Abi Usman yang diperankan dengan maksimal.

Saat itu Delisa yang kaki kanannya diamputasi sehingga harus menggunakan kurk untuk menopang tubuhnya agar bisa berdiri dan berjalan, ingin dibawa oleh Prajurit Smith untuk dijadikan anak angkatnya. Hal ini disampaikan Prajurit Smith kepada Suster Shopi yang merawat Delisa selama ini. Namun niat mulia Prajurit Smith tak jadi dilaksanakan karena Delisa sudah dipertemukan dengan Abi Usman.

Akhirnya Delisa diajak pulang oleh Abi Usman untuk melihat kondisi rumahnya yang hancur tak tersisa sedikitpun. Abi Usman tak ingin tinggal di tenda pengungsian bersama masyarakat Lhok Nnga lainnya. Ia dibantu dengan warga sekitar untuk membangun rumahnya dengan sisa-sisa kayu yang masih tersisa.

Delisa terus menghapal bacaan shalat, namun ia tetap belum hapal juga. AKhirnya Delisa mendapatkan nasihat dari Ustadz Rahman bahwa tujuan mengapal bacaan shalat bukan karena ingin mendapatkan hadiah kalung tapi harus dengat niat agar mampu melaksanakan shalat karena Allah Ta’ala. Delisapun tersadar, dan ia segera memperbaharui niatnya.

Sudah Tiga bulan lebih Delisa dan Abi Usman belum juga mendapatkan informasi akan kondisi umminya. Hal ini menebabkan Delisa kecewa dan putus asa yang membuat ia jatuh sakit.

Akhir cerita film HSD, digambarkan dengan Delisa yang berhasil menyelesaikan hapalan shalatnya. Akhirya ia menemukan jasad Ummi Salamah yang sedang memegang kalung dengan huruf “D”. Adegan pertemuan Delisa dan Umminya dalam film ini tak begitu berkesan, sangat berbeda dengan yang digambarkan dalam novelnya. Walaupun begitu, film yang ditayangkan sejak tanggal 22 Dsember 2011 ini dapat memberikan pencerahan kepada para penonton.

Produksi :StarVision
Pemain : Nirina Zubir, Reza Rahardian, Chantiq Schagerl, AlFathir Mukhtar, Loide Christina Teixiera
Sutradara :Sony Gaokasak


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Komentarnya

Emas Mini

Entri Populer